Umum

UN Umumkan Jakarta Jadi Kota Terpadat di Planet Ini, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

313
×

UN Umumkan Jakarta Jadi Kota Terpadat di Planet Ini, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Share this article

ENTERJATIM.COM – Jakarta — Sebuah laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations/UN) menempatkan Jakarta sebagai kota terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduk metropolitan, menggeser posisi Tokyo yang selama dua dekade terakhir konsisten berada di peringkat pertama. Informasi ini pertama kali diberitakan oleh Al Jazeera, yang mengutip laporan resmi UN Department of Economic and Social Affairs (UNDESA) mengenai perkembangan populasi perkotaan global.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa populasi wilayah metropolitan Jakarta, termasuk kawasan Jabodetabek, kini diperkirakan mendekati 42 juta jiwa. Angka tersebut menempatkan Jakarta sebagai megacity dengan jumlah penduduk paling besar di dunia, melewati Tokyo yang turun ke peringkat ketiga setelah bertahun-tahun menjadi kota terbesar sejak awal 2000-an. Pertumbuhan penduduk Jakarta yang sangat cepat ini disebut sebagai salah satu dampak dari urbanisasi yang berlangsung intensif di Asia.

Menurut Al Jazeera, data UN menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi di Jakarta dipicu oleh migrasi internal, konsentrasi pusat ekonomi, serta penyebaran wilayah tempat tinggal dan kawasan industri di sekitar kota. Perluasan kawasan urban Jabodetabek membuat batas kota modern semakin kabur, sehingga seluruh wilayah aglomerasi kini diperlakukan sebagai satu kesatuan metropolitan ketika dihitung dalam laporan PBB.

PBB menjelaskan bahwa dominasi Asia dalam daftar megacity dunia semakin menguat. Sembilan dari sepuluh kota terpadat di dunia kini berada di kawasan Asia, mencerminkan pergeseran pusat pertumbuhan global yang semakin berorientasi ke timur. Urbanisasi masif di negara-negara berkembang menjadi pendorong utama fenomena ini, termasuk di India, Cina, Pakistan, Bangladesh, dan Indonesia.

See also  Ribuan Polisi Amankan Ijtima Ulama 2025, Persiapan Lampung Dipuji

Meski pencapaian ini menempatkan Jakarta dalam sorotan global, laporan UN menegaskan bahwa status sebagai kota terbesar membawa tantangan serius. Lonjakan populasi menekan kapasitas infrastruktur, jaringan transportasi publik, ketersediaan hunian layak, serta kualitas layanan dasar seperti air bersih, sanitasi, kesehatan, dan pendidikan. Jakarta juga menghadapi ancaman jangka panjang seperti penurunan muka tanah (land subsidence), kenaikan permukaan air laut, polusi udara, serta beban lalu lintas yang semakin kompleks.

Al Jazeera menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia telah melakukan sejumlah upaya untuk mengurangi tekanan urbanisasi, termasuk melalui relokasi ibu kota negara ke Kalimantan Timur (IKN Nusantara). Namun, langkah tersebut tidak otomatis mengurangi pertumbuhan populasi Jakarta, karena wilayah metropolitan tetap menjadi pusat kegiatan ekonomi dan budaya terbesar di Indonesia.

Para analis urban dan ekonom menilai bahwa status baru Jakarta sebagai kota terbesar di dunia adalah cerminan paradoks: kota dengan peluang ekonomi besar sekaligus tantangan tata kelola yang sangat berat. PBB menegaskan bahwa masa depan Jakarta sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dalam memperkuat transportasi publik, memperluas ruang hijau, memastikan keberlanjutan air dan lingkungan, serta menyediakan hunian terjangkau bagi masyarakat.

Meskipun demikian, laporan UN juga menyoroti ketahanan dan daya adaptasi kota ini. Jakarta dinilai memiliki kapasitas transformasi yang besar berkat stabilitas ekonomi, inovasi dalam pelayanan publik, serta pertumbuhan teknologi yang semakin cepat. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi pemerintah dalam infrastruktur, pengendalian banjir, jalur MRT, LRT, dan elektrifikasi transportasi dianggap sebagai langkah awal menuju pembenahan metropolitan yang lebih modern.

See also  Ekonomi RI Melesat 5,04%, Jepang dan Swiss Tergelincir di Kuartal III 2025

Dengan meningkatnya perhatian dunia terhadap kota-kota besar Asia, Jakarta kini berada dalam posisi strategis sebagai simbol sekaligus laboratorium urbanisasi modern. Pencapaian sebagai kota terbesar di dunia bukan hanya statistik belaka, tetapi juga penanda bahwa masa depan kawasan urban global akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kota-kota Asia — termasuk Jakarta — menata pertumbuhan dan keberlanjutannya. (GJR)