ENTERJATIM.COM – SURIAH, 19 Januari 2026 – Kekuatan Kurdi Suriah yang tergabung dalam Syrian Democratic Forces (SDF) disebut telah kehilangan seluruh daya tawarnya setelah menandatangani kesepakatan dengan pemerintah Suriah di Damaskus. Kesepakatan tersebut dinilai sebagai bentuk penyerahan diri yang mengakhiri status semi-otonom wilayah Kurdi di Suriah utara dan timur.
Dalam analisis yang dikutip dari laporan Reuters, pengamat geopolitik Mario Nawfal menyebut kesepakatan itu mencakup penyerahan aset strategis Kurdi, mulai dari ladang minyak, bendungan, perbatasan, penjara ISIS, hingga wilayah administratif semi-otonom yang selama ini dikuasai SDF.
Lebih lanjut disebutkan, para pejuang Kurdi tidak diintegrasikan sebagai satuan militer utuh dalam struktur Angkatan Bersenjata Suriah, melainkan masuk sebagai individu tanpa komando dan struktur kepemimpinan sendiri. Kondisi ini dinilai menandai berakhirnya kekuatan Kurdi independen di Suriah.
Wilayah strategis seperti Deir al-Zor, yang kaya minyak dan gandum, serta Raqqa, pusat infrastruktur listrik utama, disebut berpindah tangan dengan cepat ke kendali Damaskus. Kehilangan dua wilayah tersebut membuat Kurdi kehilangan sumber pendanaan sekaligus posisi tawar politik dalam waktu singkat.
Sementara itu, Amerika Serikat menyebut kesepakatan tersebut sebagai “titik balik penting”. Namun, pernyataan itu ditafsirkan sebagai sinyal bahwa Washington mengakhiri dukungannya terhadap SDF, sekutu utamanya dalam perang melawan ISIS selama hampir satu dekade terakhir.
Menurut Nawfal, proses menuju kesepakatan berlangsung dalam tekanan militer. Negosiasi berlarut-larut, tenggat waktu terlewati, dan pasukan pemerintah Suriah terus maju. Dalam kondisi terjepit, SDF akhirnya menerima persyaratan yang lebih buruk dibandingkan proposal yang sebelumnya mereka tolak selama berbulan-bulan.
Dalam dinamika ini, Turki disebut sebagai pihak yang paling diuntungkan. Ankara berhasil menyingkirkan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan PKK, menghancurkan otonomi Kurdi, tanpa harus melakukan operasi militer besar. Tekanan Turki terhadap wilayah Kurdi diperkirakan akan berlanjut.
Disebutkan pula bahwa para komandan SDF sebenarnya telah memprediksi situasi ini. Mereka secara terbuka meminta Amerika Serikat untuk turun tangan sebelum kesepakatan ditandatangani. Namun setelah perjanjian tercapai, tidak ada lagi pernyataan resmi dari pihak Kurdi, yang dinilai sebagai tanda bahwa pesan dari Washington telah dipahami.
Kini, Damaskus mengambil alih kamp-kamp yang menahan lebih dari 50.000 tahanan ISIS beserta anggota keluarganya, sebuah persoalan keamanan yang diperkirakan akan menjadi bom waktu di masa depan.
Analisis tersebut memprediksi kemungkinan pemberontakan atau pelarian massal dari penjara ISIS dalam hitungan bulan, peningkatan tekanan militer Turki terhadap sisa wilayah Kurdi dalam satu tahun ke depan, serta sikap Amerika Serikat yang diperkirakan akan menghindari tudingan pengkhianatan terhadap sekutunya.
“Kurdi dimanfaatkan untuk mengalahkan ISIS, lalu dibiarkan kehilangan segalanya,” tulis Nawfal mengutip sumber Reuters. (AQZ)




