ENTERJATIM.COM – Bank-bank milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), termasuk Bank Mandiri, tengah mempertimbangkan rencana aksi korporasi berupa buyback saham. Informasi ini disampaikan analis Indo Premier yang menilai bahwa buyback berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar modal, khususnya di tengah tekanan pada saham-saham perbankan akibat kondisi makroekonomi global maupun domestik.
Menurut Indo Premier, buyback saham menandakan keyakinan manajemen terhadap fundamental perbankan nasional yang dinilai masih solid. Meski beberapa saham bank BUMN mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir, indikator kinerja seperti pertumbuhan kredit, rasio profitabilitas, dan kualitas aset menunjukkan perbaikan dan ketahanan yang kuat. Buyback pada dasarnya dilakukan ketika perusahaan menilai harga saham berada di bawah nilai wajar, sehingga aksi ini menjadi sinyal bahwa manajemen optimistis terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang.
Dinamika global seperti ketidakpastian arah suku bunga The Fed, perlambatan ekonomi kawasan, dan pengetatan likuiditas turut memicu volatilitas di pasar saham. Di dalam negeri, tekanan inflasi serta siklus penyesuaian kebijakan moneter juga memberi dampak pada sektor perbankan. Namun Indo Premier menilai bahwa tekanan tersebut bersifat temporer dan tidak mengubah fondasi kuat yang dimiliki Himbara. Bank-bank pelat merah dinilai tetap memiliki bauran pendanaan yang sehat, kapasitas ekspansi kredit yang terjaga, serta permodalan yang berada pada level yang aman.
Dukungan terhadap rencana buyback juga datang dari lingkungan legislatif. Seorang anggota DPR dari Fraksi PKB menilai bahwa aksi tersebut dapat menjadi sinyal positif bagi investor, terutama ketika pasar membutuhkan kepastian dan stimulus kepercayaan. Ia menjelaskan bahwa buyback saham oleh bank-bank BUMN tidak hanya diartikan sebagai langkah korporasi semata, tetapi juga menunjukkan keberanian dan keyakinan manajemen dalam menjaga stabilitas harga saham. Menurutnya, langkah itu dapat memperkuat persepsi bahwa bank-bank milik negara tetap berada dalam kondisi fundamental yang sehat.
Pelaku pasar melihat bahwa buyback saham berpotensi membantu menahan tekanan penurunan harga sekaligus meningkatkan refleksi nilai perusahaan di mata investor. Langkah ini sering dipandang sebagai upaya menambah nilai pemegang saham, karena perusahaan menunjukkan komitmen untuk menjaga stabilitas pasar serta menambah daya tarik investasi di sektor perbankan. Momentum seperti ini menjadi sangat penting, terutama saat sektor keuangan memainkan peran besar dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi mengenai jadwal pelaksanaan maupun besaran alokasi dana yang akan digunakan untuk buyback. Namun wacana tersebut sudah cukup membawa sentimen positif di pasar, terutama bagi investor yang memantau pergerakan saham-saham BUMN. Apabila rencana buyback direalisasikan, langkah tersebut diyakini dapat menjadi salah satu faktor pendukung pemulihan sentimen pasar serta memperkuat kinerja indeks sektor keuangan pada kuartal mendatang.
Rencana buyback saham Himbara kini menjadi salah satu isu yang paling diperhatikan di pasar modal. Pelaku industri memandang bahwa keputusan ini akan menjadi indikator penting mengenai kepercayaan manajemen terhadap prospek ekonomi maupun stabilitas industri perbankan nasional. Dengan kondisi fundamental yang terus terjaga dan dukungan kebijakan yang kuat, pasar kini menunggu langkah lanjutan dari bank-bank pelat merah terkait implementasi resmi aksi korporasi tersebut. (MBX)




